Latest Posts

Jumat, 26 November 2010

BILAL BIN RABAH

“MUADZIN RASULULLAH …LAMBANG PERSAMAAN DERAJAT MANUSIA”


Bilal bin Rabah adalah seorang budak yang berasal dari Habsyi, dari golongan orang yang berkulit hitam. Majikannya bernama Umayah Bin Khalaf, ia mengembalakan unta milik tuannya dengan imbalan dua genggam kurma.

Bilal memeluk Islam melalui proses yang panjang, lamalah sudah didengarnya Umayah majikannya dengan kawan-kawan warga sukunya membicarakan Rasulullah dengan mengeluarkan kata-kata berbisa dengan rasa amarah, tuduhan dan kebencian. Diantara apa yang dapat ditangkap oleh Bilal dari ucapan kemarahan yang tidak berujung pangkal itu, ialah sifat-saifat yang melukiskan agama baru baginya. Dan menurut hematnya, sifat-siafat itu merupakan hal-hal baru dipandang dari sudut lingkungan dimana ia tingal. Sebagaimana juga diantara ucapan-ucapan yang keras penuh ancaman itu, tapi pula kedengaran olehnya pengakuan mereka akan kemuliaan Muhammad saw, tentang kejujuran dan keterpercayaan…!

Pada suatu hari, Bilal Bin Rabah melihat nur ilahi dan mendengar imbauan dalam lubuk hatinya yang suci murni. Maka ia menjumpai Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Dan tidak lama antaranya, berita rahasia ke Islaman Bilal terungkaplah, dan beredar diantara kepala tuan-tuannya Bani Jumah.

Umayah Bin Khalaf adalah seorang kafir yang keras memusuhi Islam, mendengar Bilal budaknya memeluk islam maka meledaklah amarahnya. Diatas padang pasir yang panas dan ditengah terik matahari yang menyengat, Bilal ditelentangkan dengan ditindih batu yang besar diatas dadanya sehingga ia tidak bisa menggerakan badannya sedikitpun, sambil dikatakan kepadanya, “Apakah kamu mau mati dalam keadaan demikian atau tetap hidup tetapi dengan syarat engkau tinggalkan Islam?”. Meskipun dalam keadaan demikian, ia tetap menyatakan ahad… ahad…, yaitu yang boleh disembah hanya satu. Pada malam harinya, sambil diikat dengan rantai, ia dicambuki terus menerus, sehingga badannya penuh dengan luka. Pada siang harinya, dengan lukanya tersebut ia dibaringkan kembali diatas padang pasir yang panas sehingga penderitaannya bertambah berat disamping harus menanggung penderitaan karena luka luka dibadannya. Tuannya berharap bahwa dengan cara seperti itu ia akan mati perlahan lahan, kecuali jika mau meninggalkan Islam. Orang yang menyiksa Bilal selalu bergantian . Kadang-kadang Abu Jahal, dan kadang-kadang Umayah Bin Khalaf, kadang-kadang orang lain juga ikut menyiksanya. Siksaan kejam dan biadab ini mereka ulangi setiap hari, mereka berusaha sekuat mungkin untuk menimpakan penderitaannya yang lebih berat kepada Bilal.

Tinggallah Bilal dalam deraan panas dan tindihan batu, hingga ketika petang mereka tegakkan badannya dan ikatkan tali pada lehernya, lalu mereka suruh anak-anak untuk mengaraknya keliling bukit-bukit dan jalan-jalan kota Mekah. Sementara Bilal tiada lekang kedua bibirnya melagukan senandung sucinya : “Ahad…! Ahad…! Ahad…!”.

Waktu pagi hampir berlalu, waktu dzuhur dekat menjelang, dan Bilal pun dibawa orang kepadang pasir, tetapi ia tetap sabar dan tabah, tenang dan tak tergoyahkan. Sementara mereka menyiksanya, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Sidiq, serunya :”Apakah kalian akan membunuh orang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku Allah?!”, kemudian katanya kepada Umayah Bin Khlaf : “Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskanlah ia….!!

Kemudian pergilah Abu Bakar bersama sahabatnya itu kepada Rasulullah saw, dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan Bilal, maka pada saat itu pun tak ubah bagai hari Raya besar.

Dan setelah rasulullah saw, bersama kaum muslimin hijrah dan menetap di Madinah, beliaupun mensyariatkan adzan untuk pertama kalinya dalam melakukan shalat sebanyak lima kali dalam sehari semalam.

Pada hari itu pilihan Rasulullah saw jatuh atas diri Bilal sebagai muadzin pertama dalam Islam. Dan dengan suaranya yang merdu dan empuk diisinya hati dengan keimanan dan telinga dengan keharuan, sementara seruannya menggemakan lantunan panggilan Ilahi sebagai tanda waktu shalat telah tiba.

Bilal telah memberikan pelajaran kepada orang-orang yang semasa dengannya, juga bagi orang-orang disegala masa, bahkan bagi pengikut agama lain, suatu pelajaran berharga yang menjelaskan bahwa kemerdekaan jiwa adan kebebasan nurani, tak dapat dibeli dengan emas separuh bumi, atau dengan siksaan bagaimanapun dahsyatnya…!

Kehitaman warna lulitnya, kerendahan kasta dan bangsa, serta kehinaan dirinya diantara manusia selama itu sabagai budak belian, sekali-kali tidaklah menutup pintu baginya untuk menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinannya, kesuciannya dan kesungguhannya setelah ia memasuki Agama Islam. Ya…., itulah BILAL BIN RABAH Orang yang pertama kali mengumandangkan Adzan dan “LAMBANG PERSAMAAN DERAJAT MANUSIA”

read more...

Rabu, 31 Maret 2010

SELAYANG PANDANG MDT AL-IKHLAS

Dalam upaya menjawab perkembangan zaman di masa depan, khususnya di wilayah Gunungputri, yang membutuhkan lembaga keagamaan yang terprogram baik, maka Yayasan Al-Ikhlas Citra Utama mendirikan Madrasah Diniyyah Takmiliyyah Al-Ikhlas. Hal ini dikuatkan dengan diterbitkannya surat izin operasional dari Departemen agama pada tanggal 18 juli 2005 dengan nomor SK Kd.10.01/55/PP.008/029/2005 dan nomor piagam pengesahan : D.Mi-10/MDA/076/2005 dengan nomor statistik Madrasah (NSM) : 4123203190008.

Sebagai Kepala Madrasah Diniyyah Takmiliyyah dijabat oleh Bp. Dedy Hariyadi, S.Pd.I dengan jumlah siswa angkatan pertama sebanyak 8 orang (Lulus tahun 2009). Untuk tahun pelajaran 2009/2010, MDT Al-Ikhlas insya Allah akan mengadakan munaqosyah kelulusan santri bagi kelas 4, sebanyak + 14 orang santri.

Santri MDT al - Ikhlas adalah para santri Lulusan dari TKQ/TPQ baik dari Yayasan al-Ikhlas sendiri, maupun TKQ/TPQ lainnya. Adapun materi pelajaran yang diberikan merupakan kurikulum yang diberikan oleh Departemen Agama ditambah dengan materi Muatan Lokal dari Yayasan, yaitu : al-Quran hadits, Fiqih (Teori dan praktik),aqidah akhlak,Sejarah Kebudayaan Islam,Tajwid,Bahasa Arab,bahasa Inggris,Tahfiz juz 30,terjemah lafdziahMurottal, Pembacaan Rawi dan Shalawat dan Tilawah al-Quran. Disamping itu para santri juga diwajibkan mengikuti extra kurikuler sesuai dengan bakatnya yakni : Marawis, Khitobah(Bahasa Inggris,Bahasa Arab,Bahasa Indonesia),kaligrafi.

Dalam upaya mendidik para santri memiliki jiwa kepemimpinan, dibentuk 3 konsulat yang menaungi para santri untuk melatih keterampilan dan keberanian mereka. Ketiga konsulat ini memiliki giliran untuk menjadi sponsor acara Muhadhoroh yang diadakan setiap bulan sekali. Pada acara Muhadhoroh ini, para santri mempertunjukkan kemampuan dan keberanian mereka dihadapan rekan-rekannya dengan berpidato(bahasa Arab,Inggris, dan Indonesia),dan lain-lain.

Dalam perkembangannya, jumlah santri MDT Al-ikhlas selalu mengalami pasang surut. Pada tiap semester ada saja santri yang mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Karena sekolah (adanya les / pemadatan pelajaran khususnya bagi mereka yang kelas 6 SD / 9 SMP), terlalu letih, dan lain sebagainya. Sebenarnya hal ini tak perlu terjadi, seandainya ada kerjasama dan dukungan dari orang tua terhadap anak - anak mereka dengan menekankan pentingnya pendidikan agama bagi kehidupan mereka kelak.

Diakui atau tidak, perkembangan zaman yang terjadi sekarang ini telah membuat anak-anak pada masa kini telah semakin meninggalkan pendidikan agama dalam kehidupan sehari - harinya. Sehingga tak jarang kita temukan, banyak anak-anak usia sekolah yang lebih senang berada di rental playsatation, berkata kasar dalam pergaulannya, tawuran dan lain sebagainya.

Namun ditengah berbagai kesulitan yang kami temukan, kami tak pernah berhenti berharap bahwa keberadaan MDT al-Ikhlas mampu memberikan warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat, dimulai dari yang terkecil, memberikan pendidikan akhlak kepada para santri, dan melatih jiwa kepemimpinan mereka.

Demikianlah sekilas tentang MDT al-ikhlas, semoga dari tulisan yang sangat singkat ini semakin membuka wawasan kita akan pentingnya pendidikan agama bagi putri/putri kita. (Guz)
read more...

Kamis, 04 Maret 2010

SELAYANG PANDANG TKA-TPA

Mengingat kebelakang di masa-masa awal perjuangan kami dalam berdakwah meneruskan harapan para sesepuh dan guru-guru kami untuk memberikan secercah cahaya yang bisa menerangi masyarakat kami khususnya masyarakat wilayah Gunung putri dan sekitarnya, begitu banyak rintangan dan ujian yang kami hadapi. Dengan berawal dari keadaan kami yang seadanya di iringi dengan niat tulus semata-mata karena Allah, kami mulai merintis sebuah lembaga keagamaan, yang mulanya di rintis oleh ibunda kami tercinta Hj. Suaidah Asikuddin Sulaiman melalui pengajian yang muridnya dari tetangga terdekat kami.

Bertempat diruang yang seadanya yaitu ruang makan yang dimulti fungsikan, mulailah kami berkiprah mendidik anak-anak, berbekal ilmu dari Perguruan Islam As Syafi'iyah, sesuai pesan guru kami KH.Abdullah Syafi'i (Alm), kami mulai menata program-program pengajian dalam bentuk diniyah, ternyataprogram ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa, hal ini dapat dibuktikan dengan pertumbuhan jumlah santri yang semakin hari semakin banyak dalam waktu yang relatif singkat, sehingga kapasitas ruangan yang tersedia sudah tidak sesuai lagi dengan jumlah santri yang bertambah.
read more...